by Dita Ramadhany on 6.7.19
Pengen cerita hal yang sebenarnya memberatkan hati dan menyedihkan. Seperti yang padahalnya kalian tahu, bahwa saya sangat menantikan buah hati. Namun sampai dengan satu tahun lebih tidak ada kabar menggembirakan.
Pada tiga bulan pernikahan, hal ini sungguh mencemaskan. Tekanan dari lingkungan lumayan besar, jadilah kami pergi ke dokter untuk periksa. Kata dokter sih masih wajar karena masih pengantin baru, jika sudah setahun lebih baru harus diperiksa. Namun dua kali kami periksa tetap diberikan obat oleh dokter. Lalu, kami menjalani pernikahan seperti biasa. Lingkungan lagi lah yang membuat saya sedih. Ketika ada sepupu yang menikah di tahun yang sama dengan saya sudah hamil, lalu para orang tua menasehati agar tidak menunda. Apalah daya kami yang berusaha namun Qadarallah belum dikasih juga. Suami pun menguatkan saya setelah beberapa kali saya down mengenai hal ini.
Beberapa bulan kemudian, ipar menikah dan beberapa minggu setelah menikah dinyatakan positif. Hal itu pula membuat saya down lagi. Terlebih keluarga besan ipar, setiap kali kami main ke rumahnya selalu menanyakan apakah saya sudah isi. Mungkin saya yang terlalu sensitif, menjadi berpikiran buruk. Mencoba berpikiran positif kembali.
Di bulan ke sembilan pernikahan, saya mencoba browsing untuk program hamil yang tentunya tidak perlu konsultasi ke dokter, karena biaya nya pasti mahal. Lalu saya mencoba mengubah jadwal berhubungan, yang tadinya dilihat berdasarkan masa ovulasi dari kalender kesuburan, menjadi setiap dua hari setelah menstruasi. Saya juga menjaga agar jeda menstruasi per bulan tidak terlalu jauh, karena jika dilihat dari aplikasi pencatat menstruasi jeda yang paling lama itu bisa mencapai 46 hari. Mengurangi makan pedas, memperbanyak sayur dan buah, mengurangi junk food dan kafein, dan melakukan olahraga rutin. Itu semua hal yang sulit, karena saya suka pedas dan kafein, saya ga bisa makan sayur yang ga ada rasa dan cukup picky terhadap sayur, sedangkan buah jarang beli dan harganya juga tidak murah jika mau beli rutin. Untuk olahraga rutin pun sedikit susah, saya awalnya bisa meluangkan waktu 5-10 menit, setelah itu blaass ga bisa. Ya karena mengurus rumah, suami, dan kerja pagi sampai maghrib. Malam pun mau olahraga rasanya sudah lelah.
Lalu mencoba rutin minum madu dan kurma. Segala macam kurma saya makan padahal saya tidak suka karena terlalu manis, dari kurma biasa, kurma muda, sampai kurma ajwa. Teman-teman kantor lalu mengadakan senam dua kali seminggu seusai jam kantor, saya pun mengikutinya. Mertua saya juga menyarankan untuk pijit pun saya iyakan. Jadi orang-orang yang suka menasehati tanpa saya bertanya itu mungkin tidak tau hal apa saja yang sudah saya lakukan.
Oh ya, saya pun sebenarnya dalam satu tahun pernikahan itu suka telat haid dan merasakan yang katanya tanda-tanda hamil, lalu melakukan testpack ternyata negatif sehari kemudian mens. Berkali-kali hal tersebut begitu, sampai saya trauma untuk melakukan testpack. Lalu pada akhir April kemarin, saya iseng mencoba testpack sambil saya bebenah rumah sebelum kerja. Saya tinggal sebentar, dalam hati saya berpikiran pasti negatif lagi. Qadarallah hasilnya berbeda dengan pikiran saya, ada dua garis dengan satu garis samar. Saya tidak yakin karena dulu pernah seperti itu lalu keesokan harinya mens.
Karena panik dan kaget, saya pun bertanya pada ibu saya via chat. Sudah tidak kepikiran untuk membuat suprise. Lalu ibu saya cuma menyuruh untuk coba tes ulang lagi. Saya pun tak sabar untuk menanyakan kepada suami, apakah ini garis dua atau bukan. Saya langsung menanyakan kepada suami yang baru selesai mandi, dan dia pun shock dan bingung. Katanya iya itu garis dua, artinya apa? hamil? Saya bilang yah mungkin. Lalu saya tinggal bebenah lagi agar cepat pergi ke kantor. Ketika usai bebenah, suami saya masih dalam keadaan shock, bingung, mukanya bengong.
Karena tidak sabar untuk testpack lagi, akhirnya saya beli lagi testpack di apotik yang bisa dipakai di malam hari dan tidak harus dengan pipis pertama. Hasilnya pun positif. Lalu kami berinisiatif untuk konsultasi esok hari. Masih tidak percaya dengan hasilnya, saya pun test ulang dengan dua buah testpack. Kedua hasilnya juga positif. Hari itu kami berkeliling ke berbagai rumah sakit untuk konsultasi, namun karena tanggal merah jadi tidak ada dokter spesialis yang praktek. Jadi keesokan harinya saya izin datang telat ke kantor untuk ke dokter. Dokter pun mengatakan saya positif hamil namun saat itu kantung kehamilannya belum terlihat. Rasanya sungguh tak dinyana, karena bulan itu saya niat untuk free promil, ingin bebas makan apapun tapi ternyata positif. Alhamdulillah.
Gejala hamil yang saya rasakan saat itu pusing, tensi rendah, dan mual hanya pada malam hari. Tidak ada flek-flek pink seperti yang dikatakan diberbagai artikel. Saya pun mulai menjaga makanan dan minuman serta aktifitas. Lalu seminggu kemudian, saya beberapa kali pup berdarah, rasanya panik luar biasa, karena takut keguguran, perut saya pun kram, dan rasanya seperti mau mens, ada yang mau keluar. Lalu saya ke dokter dinyatakan untuk bed rest selama 3 hari.
Seminggu kemudian, saya masuk kantor seperti biasa dan tidak berani melakukan aktifitas berat, sampai beberapa hari kemudian saat pipis di kantor, ada darah di tissue saat cebok. Berkali-kali diusap ada darah, karena takut kenapa-napa, saya izin ke dokter dan dokter menyuruh bed rest lagi selama seminggu. Pikiran saya sudah takut semenjak flek ini, takut hamil kosong, takut hamil anggur, dll. Mencoba berpikiran positif lagi. Lalu, mencoba aktifitas seperti biasa lagi dengan ekstra super hati-hati. Masih sedikit flek-flek, jadi saya memakai pembalut setiap harinya. Fleknya pun kadang berhenti beberapa hari kadang keluar lagi.
Yang paling membuat sedih ialah saya tidak bisa bepergian terlalu jauh, paling jauh pun itu cuma ke kantor. Saat lebaran pun keluarga pada mudik, saya dirumah hanya berdua dengan suami. Lalu hari Minggu, saat pipis keluar gumpalan darah. Rasanya shock, bingung, dan takut. Mau periksa pun tidak ada dokter yang buka karena masih cuti lebaran dan weekend. Seninnya pun kami mencoba ke dokter terdekat, dan dari raut wajah dokter mengatakan bahwa janinnya tidak berkembang. Rasanya shock, terlebih saat melihat raut muka suami yang berubah. Dokter pun mengatakan bahwa kami harus balik lagi seminggu kemudian. Saya masih mencoba berpikiran positif, mau mencari second opinion. Di hari yang sama pula, kabar duka menghampiri keluarga besar kami. Salah satu om saya meninggal, jadi ketika saya butuh sandaran orang tua saya, mereka tidak ada di dekat saya. Akhirnya kami datang ke dokter yang dari awal menangani kehamilan saya, dan dia juga menyatakan bahwa janin kami tidak berkembang dan harus dikuret segera, entah dengan cara kuretase berupa tindakan atau melalui minum obat. Disitu rasanya hati saya hancur sehancur hancurnya. Tapi saya mencoba biasa agar suami saya juga tidak terlalu sedih. Lalu kami menanyakan berapa biaya tindakan kuretase yang ternyata lumayan mahal. Rata-rata diatas 1juta hanya untuk tindakannya saja, belum yang lainnya.
Pulang dari RS, kami pun berdiskusi bagaimana tindakan selanjutnya. Lalu kami mencoba dengan BPJS dan ternyata bisa. Kami pun membuat jadwal dengan dokter di RS yang dirujuk. Sesampainya dirumah, susah untuk menutupi perasaan ini. Mencoba menonton komedi, tapi seusai itu air mata langsung turun, shalat pun rasanya sedih luar biasa, tidak bisa di sentuh suami karena jika saya dielus yang ada saya akan histeris, saya tahu itu.
Keesokan harinya bertemu dengan dokter, lalu dokter kembali menjelaskan bahwa kehamilan saya ini Blighted Ovum (BO) atau kehamilan kosong. Lalu kami menjalani kuretase, entah karena prosedur BPJS atau bagaimana, yang seharusnya saya menjalani kuretase melalui tindakan dialihkan menjadi obat. Katanya karena saya belum ada pembukaan. Akhirnya saya pun di opname. Sampai malam pun belum ada pembukaan. Awalnya saya hanya merasakan mulas-mulas biasa seperti pada flek-flek sebelumnya, namun saat tengah malam terbangun dengan banjir darah. Saya tahu bahwa ketika menjalani kuretase harus menggunakan pembalut, tapi pembalut pun tidak bisa menahannya.
Saya pun hanya bisa tidur 15 menit setiap sehabis mengganti pembalut sejam sekali. Rasanya Masya Allah sekali, kram tiada henti dan berkali-kali lipat dari kram saat mens. Pembalut yang saya bawa pun sampai habis sampai harus membeli dua kali bolak-balik, celana pun slalu terkena noda darah, dan tidak nafsu makan. Siang pun dibolehkan pulang ke rumah dengan keadaan pendarahan yang lumayan berkurang volumenya. Sampai dua minggu kemudian, dokter menyatakan rahim saya sudah bersih.
Disini saya benar-benar merasakan betapa beratnya perjuangan menjadi seorang ibu. Hormon kehamilan saya baru benar-benar hilang 3 minggu setelah kuret. Sampai saat ini mungkin saya dari luar terlihat baik-baik saja, tapi setelah proses itu sampai sekarang saya masih insomnia.
Mungkin ada yang mempunyai pengalaman yang sama, tapi apa yang dirasakan setiap orang berbeda. Janganlah kalian memojokkan dan mengatakan hal yang sensitif kepada mereka. Jangan bertanya apa penyebab mereka mengalami itu kecuali mereka sendiri yang menceritakan.


No comments:
Post a Comment