June 21, 2024

TTC : My Second Lovely

June 21, 2024 0 Comments



Setelah hampir dua bulan terpuruk karena kekecewaan dan kesedihan, aku bangkit lagi dan percaya bahwa Allah akan menitipkan aku anak suatu saat nanti. Insya Allah, aku siap dan bisa bertanggung jawab untuk hidupnya kelak.


Kun fa ya kun. Apa yang aku doakan, apa yang aku dambakan, hadir. Setelah aborsi atau keguguran, aku memulai promil lagi. Rutin olahraga lagi, minum vitamin lagi, dan berhubungan sesuai dengan saran dokter. Yakni 2 hari sekali. Aku juga menjaga agar tidak terlalu lelah.



Awal melakukan test pack sebenarnya iseng, karena sebentar lagi mau masuk minggu menstruasi. Awalnya belum ada tanda-tandanya, lalu biidznillah, alhamdulillah garis samar dua. Aku pun memberi tahu ibu ku terlebih dahulu, responnya bengong. Lalu memberi tahu suamiku, responnya juga sama bengong, sama seperti saat kehamilan pertama. Untuk meyakinkan, aku lgs checkup ke obgyn dan ternyata memang sudah ada kantungnya. Namun dokter sepertinya tidak yakin, katanya tunggu 3 minggu lagi, karena saat ini masih 4 minggu.


Orang tuaku khawatir, kehamilanku saat ini sama seperti kehamilan pertama dan riwayat pengentalan darahku. Jadi di weekend, kami checkup ke dokter hematology. Saat disana pun di test darah segala macam termasuk test apakah benar hamil atau tidak. Alhamdulillah hasilnya positif, dan entahlah sepertinya darahku masih kental, jadi belum aman untuk hamil, sehingga dokter meresepkan suntikan dan heparin - karena aku memilih cairan pengencer darah yang tanpa bersinggungan dengan babi.

Selama kehamilan ini aku kontrol ke dua dokter, obgyn dan hematology. Di usia kehamilan 8w, obgyn sudah menyatakan kehamilannya aman, sehat dan ada detak jantung si bayi. Aku suntik heparin 2x dalam sehari, rasanya Masya Allah. Siapa yg nyuntik? tentu saja suami sendiri dengan arahan yg diberikan dokter. Awal check up ke hematology 2 minggu sekali, lalu jd sebulan sekali. Tidak hanya heparin, jg berbagai macam obat yg diresepkan.

Trimester pertama ku dimulai dengan muntah2 yang parah, susah makan, tidak mau nasi, mencium bau masak nasi membuatku mual. Trimester kedua hingga ketiga ku aman. Tapi perut menjadi banyak lebam jika suntik di area yang salah. Yang awalnya sakit, sampai jadi ahli bisa suntik sendiri. dari yang pakai suntikan 1ml jadi 5ml.

Karena aku ada riwayat pengentalan darah atau aca, hematology ku memberiku obat kolesterol agar aku tidak pre-eklampsia, padahal sampai akhir menjelang lahiran pun tekanan darah ku selalu rendah. Sempat infus zat besi juga, karena aku anemia defisiensi zat besi.

Tempat sampahku full oleh suntikan. Sebenarnya worry banget, tiap bulan harus buang sampah suntikan. Takut disalahgunakan orang. Sayang banget disini ga ada pengelolaan sampah untuk sampah2 medis, yang digunakan dirumah.

Alhamdulillah sampai trimester 3, tidak ada strectmark, kaki tangan tidak bengkak, bb pun naik dengan wajar, sampai orang tua takut bb anakku dibawah, pdhl justru baby nya bb gede. Yang aku keluhkan saat hamil, aku pusing (hanya saat trimester awal), sakit kepala berhari-hari, gusi berdarah banyak (ga diapa-apain keluar darah terus, sampai harus buang ludah yg isinya darah). Sampai akhir pun aku makan tetap dengan porsi sedikit, namun lama-kelamaan mau makan nasi.

Menurut hematology, aku seharusnya lahiran di 38w, tapi aku diam-diam tidak menuruti saran beliau. Sampai kehamilan 38w, aku masih suntik (yang seharusnya di 36w sudah di stop), karena aku berencana lahiran normal. Menurut obgyn, aman lahiran normal asal sudah di stop kurang lebih 2 minggu sebelum lahiran. Dimulai dr 36w, aku sudah rutin jalan kaki jauh. Namun sampai dg 40w tidak ada kontraksi sedikitpun. Akupun khawatir dg bayiku, bidan jg menyuruh untuk sc.

Disinilah drama dimulai. RS tujuanku prosedur untuk sc dari bidan berbelit dan aku kurang informasi. Aku hanya diinfo dari bidan, jika sampai 40w belum ada kontraksi dan pembukaan, bisa lgs ke ugd rs tujuan, lalu diberikan surat rujukan oleh beliau. Saat sampai ugd, tidak bisa karena rujukan tujuannya konsul dengan obgyn dan seharusnya aku lapor ke fk1. Akhirnya kontak lagi dengan bidannya, lalu diarahkan ke rs lain. Alhamdulillah, di ugd rs tsb bisa menerima kami.

Karena dadakan, aku menunggu di ugd cukup lama, terlebih dengan kondisi covid yang lagi marak. Ditambah was-was karena harus rontgen sebelum operasi, padahal seharusnya ibu hamil tidak boleh. Dan bagaimana jika saat itu aku positif, pikiranku rasanya bising, hatiku tidak karuan. Alhamdulillah hasil rontgen negatif, walau dari situ aku tau klo aku ada skoliosis. Sebelum ashar pun, akhirnya aku masuk ke ruang operasi. Rasanya aneh, karena pake baju operasi yang sangat minim, sendirian, dan dingin. Karena sudah terbiasa disuntik, saat dibius pun aku tidak merasakan sakit. Tidak lama kemudian, anakku lahir dengan tangisan yang kencang. Saat ditunjukkan, kamu sangat putih dan bersih sayangku. Terima kasih, kamu bertahan, kuat, dan hadir disaat dunia sedang kacau :') Dan memilihku menjadi ibumu.

Lalu bayiku dibawa keluar ruang operasi. Saat hendak dijahit perutku, rasanya sakit. Sebelumnya saat dibelek pun aku berasa walau tidak sakit. Tapi ini saat dijahit, rasanya ditekan-tekan, sakit banget. Akupun mengeluh. Lalu entahlah ya, kesadaran ku hilang. Sepertinya biusku ditambah, seharusnya bius lokal atau separuh, menjadi bius total.

Bangun-bangun, aku ada diruang recovery, sendirian, tanpa bayi. Lalu, aku diantar keruangan. Apakah lahiran dengan sc enak? tentu saja tidak. Untuk miring saja susah, duduk apalagi. Dari duduk ke tidur rasanya nyes. Setelah berada diruangan, aku was - was karena belum bertemu dengan bayiku, katanya masih di observasi, baru esok hari bertemunya. Semalaman tidak bisa tidur, karena khawatir dengan bayiku. Terlebih aku menyesal tidak imd dengan anakku saat pertama kali ia keluar.

Paginya aku baru bertemu dengan bayiku. Dia masih pulas, dan alhamdulillah asiku langsung keluar. Ternyata memang saat bayi tidak ada, lebih baik kamu istirahat. Malamnya, bayiku menangis terus padahal sudah disusukan. Sudah dicek popok tidak ada pipis atau pup. Menangis terus selama berjam-jam, akupun tidak enak. Perawat pun sampai datang, ternyata saat di cek, ade pup banyak sekali.

Di hari ketiga kamipun pulang dari rs. Terima kasih anak pertama ku. Cerita ini mungkin tidak detail karena ibu mulai lupa, tapi ibu tidak pernah lupa rasanya bagaimana kamu di perut, kamu keluar pertama kali, bagaimana tangisan pertamamu di bangsal. Ibu sangat sayaaangg dengan kamu.

Terima kasih sudah lahir ke dunia ini dengan sehat dan memilihku menjadi ibumu.

Follow Us @soratemplates