Siapa sih yang mau harus di kuret?
Mungkin yang mau itu hanya lah untuk orang yang tidak menginginkan kehamilannya.
Tapi jika kehamilan akibat dari hubungan yang sama-sama mau, that's really wrong.
Kecuali jika kamu adalah korban pemerkosaan.
And I can't judge. Karena saya tidak punya ilmunya, baik dari segi agama maupun hukum.
Ternyata biaya kuret pun tidak murah. Pantas saja, banyak orang jika tau dirinya hamil mereka mencari obat penggugur kandungan, dukun beranak, atau dokter abortus illegal. Mungkin karena lokasi domisili saya masih dekat ibukota metropolitan, maka di rumah sakit sekitar jika ingin melakukan tindakan abortus itu mahal. Sebagai referensi, mungkin bisa melihat biaya kuretase di berbagai RS Indonesia di link berikut https://www.alodokter.com/cari-rumah-sakit/ginekologi/kuret. Tapi saya tidak tahu apakah harga tsb up to date atau tidak.
Sebenarnya pengalaman saya pun ga bisa untuk menjadi comparable, karena dari tiga rumah sakit yang saya datangi untuk meng-confirm bahwa janin saya tidak berkembang lagi itu, hanya satu rumah sakit yang saya tau biaya tindakan kuretasenya, yakni RS Premiere Ramsay Bintaro. Saat itu biaya kuretase 7 juta hanya berupa tindakan saja, belum obat, alat-alat pendukung, dokter, dll. Bayangkan saja saat hamil saja kemarin harus bolak-balik RS seminggu sekali dalam waktu sebulan setengah sudah habis 5 juta, lalu dapat berita duka dan harga tindakan yang cukup menguras kocek kita. Bukannya tidak ada uang segitu, cuma saya rasa ga worth it. Meskipun pihak RS menjamin bahwa tindakan kuretase ini hanya sebentar dan tidak sakit, langsung bisa pulang hari itu juga.
Sedangkan kami tidak punya asuransi kesehatan, hanya ada bpjs. Jadi BPJS is the last option. Bagaimana tahap menggunakan BPJS untuk prosedur kuretase? Sebenarnya sama seperti klo kita berobat ke RS dengan BPJS.
- Datang ke faskes 1 dari BPJS kamu. Ceritakan pada dokter di faskes pertama mengenai kasus kamu, nanti dokter kamu akan membuatkan surat rujukan dan rekomendasi untuk melakukan prosedur kuretase di rs tujuan. Klo kemarin dokternya menanyakan saya mau ke RS mana, tapi tetap saja keputusan nanti ada di bagian administrasi faskes 1. Bagian administrasi akan melihat RS mana saja yang mendukung tindakan kuretase dan sesuai dengan tipe RS paling rendah. Tipe RS paling rendah disini ialah tipe C.
- Jika sudah dapat surat rekomendasi tindakan, datang ke RS tujuan. Lebih baik bertanya dulu di bagian informasi RS tsb. Berdasarkan pengalaman saya, RS yang saya tuju kemarin tidak bisa langsung masuk dan melakukan tindakan. Harus mendaftar seperti rawat jalan pada umumnya. Jadi reservasi dulu, lalu besok membawa pakaian, pembalut, dan file-file yang dibutuhkan untuk administrasi.
File atau dokumen apa saja sih yang dibutuhkan? Sepertinya ini tergantung dari RS tujuan ya. Kemarin RS saya, syaratnya ialah :
- 2 buah fotocopy kartu keluarga
- 2 buah fotocopy ktp
- 2 buah fotocopy kartu bpjs kesehatan
- fotocopy surat rekomendasi atau rujukan
- Surat rekomendasi atau rujukan asli
- kartu bpjs kesehatan asli
Untuk jaga-jaga, saya bawa semua dokumen asli sampai bawa buku nikah, jumlah fotocopynya pun masing-masing 5. Kenapa bawa pembalut? Karena setelah dari RS, saya browsing pengalaman kuretase dengan BPJS seperti apa. Baju yang dibawa pun cukup untuk dua malam.
Keesokan harinya, saya melakukan daftar ulang dan memberikan dokumen syarat yang diminta. Lalu mengantri untuk konsul ke dokter kandungan terlebih dahulu. Setelah itu keluar dari ruang konsul, menunggu untuk masuk ruang tindakan. Perawat memanggil ke ruang tindakan, lalu kita disuruh tiduran di brankar. Perawat akan mengecek apakah kita sudah pembukaan atau belum. Cukup lama di observasinya, sampai akhirnya dokter memutuskan di opname saja. Kembali menunggu, sembari kamar disiapkan.
Setelah masuk kamar, perawat mengecek kembali apakah saya sudah pembukaan atau belum. Btw saat perawat melakukan pengecekan ini rasanya sakit ☹️. Sampai pada akhirnya sore hari, dokter memutuskan untuk menyuruh suami saya membeli obat 3 buah, dan ternyata itu obat penggugur kandungan. Diminum sehabis makan malam dan jam 9 malam, satu lagi diminum keesokan harinya. Obat ini tidak dicover oleh BPJS, jadi beli sendiri di apotik RS. Saat opname pun tidak menggunakan infus. Obat ini juga tidak mahal, mungkin karena itu banyak yang mencari obat ini dan melakukan aborsi di rumah. Obat ini tidak dijual bebas ya.
Obat pertama diminum masih belum ada efek apapun. Perawat pun bertanya apa ada keluhan, saya jawab tidak. Karena sudah minum obat dan opname, saya pun sehabis mandi lalu memakai pembalut. Pembalut yang saya bawa ini ialah pembalut biasa untuk menstruasi tapi dengan ukuran yang sangat panjang. Obat kedua menjelang saya tidur. Ternyata efeknya baru terasa di jam 11 malam, perut rasanya sakit luar biasa. Ketika memegang celana pun ternyata sudah basah oleh darah. Kasur pun banjir darah. Saya ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan pembalut, tadinya pembalut yang saya pakai itu cuma 1, karena 1 tidak cukup akhirnya saya pakai 2. Memanggil perawat untuk mengganti seprei dan perlak brankar. Biasanya kalau saya mens, selalu mencuci pembalut yang sudah dipakai. Tapi yang ini saya tidak sanggup cuci karena terlalu banyak darah dan full dari ujung ke ujung. Jadi hanya menaruhnya di kantung plastik besar. Kamar mandi pun rasanya sudah bau darah banget, saat ganti baju pun saya ga bisa lepas dari toilet duduk. Karena darah masih terus keluar. Keluarnya itu seperti *maaf* pup tapi keluar begitu saja. Ada kali 15 menit di kamar mandi sampai si darah ini agak stop sehingga saya bisa memakai celana.
Setelah itu rasanya perut melilit luar biasa, mungkin rasanya seperti kontraksi orang lahiran. Sampai akhirnya bisa tertidur dengan sendirinya dan terbangun 15 menit kemudian. Ganti pembalut lagi, nongkrong di toilet lagi. Pembalut yang saya pakai hanya 1 pack dan isinya 20. Itu pun kurang sampai jam 2 pagi. Akhirnya saya menyuruh suami saya beli lagi pembalut di minimarket terdekat. Baru tersadar saat menghabiskan pack kedua dan membeli pack ketiga bahwa pembalut yang dipakai seharusnya itu pembalut maternity, karena katanya berbeda. Begitu terus siklusnya sampai akhirnya saya agak bisa tertidur lama di jam 8 pagi. Darah yang keluar juga tidak sebanyak semalam, tapi rasa sakitnya luar biasa. Semakin menjadi-jadi. Rasanya saat itu lebih baik saya mati daripada tersiksa seperti itu.
Setelah makan pagi, saya minum obat terakhir. Siangnya saya dibawa ke ruang tindakan lagi oleh perawat. Diruangan itu agak lama, dan posisinya bagian bawah saya terbuka dan diberikan semacam pembalut perlak, untuk melihat apakah darahnya masih keluar dan pembukaannya sudah sampai mana. Cukup lama di ruang tsb, sampai akhirnya dokter mengijinkan saya untuk pulang. Karena pembukaan saya belum full dan darah juga sudah hampir keluar semua. FYI, saya hanya bertemu dokter hanya saat konsul saja. Dokter hanya berkomunikasi dengan perawat, lalu perawat menyampaikan kepada saya. Kalau tidak salah, perawat sempat menanyakan apakah janinnya sudah keluar? Saya jawab tidak tahu karena terlalu banyak darah, saya pusing, dan duduk di toilet kita proses pengeluaran darah itu berlangsung. Entah ini memang prosedur dari bpjs seperti ini, atau kah dari pihak RS nya yang pilah pilih karena bpjs, atau memang dokternya mencari jalan pintas. I didn't really know.
Minggu besoknya, saya lupa apakah jaraknya sampai dengan seminggu atau tidak, saya konsul kembali ke dokter untuk dicek apakah sudah bersih atau belum dan diberikan obat. 2 minggu kemudian balik lagi ke dokter untuk melihat apakah kali ini sudah bersih atau belum, dan diberikan obat untuk menunda menstruasi.
Biayanya free selama proses kuretase, opname, dan konsultasi check up after kuretase. Tapi hanya konsultasi pertama setelah tindakan yang gratis atau di cover, untuk konsultasi kedua bayar dengan biaya pribadi.
Oh ya kenapa saya memilih kuretase langsung karena dari semua dokter yang saya temui sebelum tindakan ini menyuruh saya melakukan tindakan segera, setidaknya maksimal seminggu untuk mengambil keputusan karena akan berbahaya buat si ibu.
Yang saya herankan dari proses kuretase yang saya alami, bagaimana orang bisa menggugurkan berkali-kali dengan meminum obat penggugur kandungan dan meminumnya tanpa diawasi oleh tenaga medis? Because it was hurt so much. Dipikiran saya saat itu, jika memang rasanya kontraksi sakitnya seperti ini, it doesn't matter if I can hold my child. Tapi ini saya merasakan sakit tapi tidak ada yang bisa saya perjuangkan ☹️
That was my story. Apakah saya trauma? Yes, I am. Apakah saya tidak mau hamil lagi? Of course I will.
Oh ya, setelah proses kuretase ini, saya masih mengeluarkan darah sampai kurang lebih sebulan. Baru menstruasi lagi di bulan kedua. Mungkin karena dari itu tidak boleh berhubungan badan terlebih dahulu jika kita habis melakukan kuret.
Pro kontra antara proses kuretase tindakan dan obat masing-masing ada ya, kalian bisa searching sendiri lewat om google :D
Pro kontra antara proses kuretase tindakan dan obat masing-masing ada ya, kalian bisa searching sendiri lewat om google :D
No comments:
Post a Comment