April 29, 2020

Pengalaman aborsi dengan BPJS

April 29, 2020 0 Comments

Trigger Warning : Disini saya menginfokan mengenai kuretase yang berhubungan dengan kondisi medis yang diperlukan karena jika tidak dilakukan prosedur kuretase, jika berhubungan dengan kehamilan dan tidak dilakukan tindakan akan berbahaya buat si ibu.


Siapa sih yang mau harus di kuret?
Mungkin yang mau itu hanya lah untuk orang yang tidak menginginkan kehamilannya.
Tapi jika kehamilan akibat dari hubungan yang sama-sama mau, that's really wrong.
Kecuali jika kamu adalah korban pemerkosaan.
And I can't judge. Karena saya tidak punya ilmunya, baik dari segi agama maupun hukum.

Ternyata biaya kuret pun tidak murah. Pantas saja, banyak orang jika tau dirinya hamil mereka mencari obat penggugur kandungan, dukun beranak, atau dokter abortus illegal. Mungkin karena lokasi domisili saya masih dekat ibukota metropolitan, maka di rumah sakit sekitar jika ingin melakukan tindakan abortus itu mahal. Sebagai referensi, mungkin bisa melihat biaya kuretase di berbagai RS Indonesia di link berikut https://www.alodokter.com/cari-rumah-sakit/ginekologi/kuret. Tapi saya tidak tahu apakah harga tsb up to date atau tidak.

Sebenarnya pengalaman saya pun ga bisa untuk menjadi comparable, karena dari tiga rumah sakit yang saya datangi untuk meng-confirm bahwa janin saya tidak berkembang lagi itu, hanya satu rumah sakit yang saya tau biaya tindakan kuretasenya, yakni RS Premiere Ramsay Bintaro. Saat itu biaya kuretase 7 juta hanya berupa tindakan saja, belum obat, alat-alat pendukung, dokter, dll. Bayangkan saja saat hamil saja kemarin harus bolak-balik RS seminggu sekali dalam waktu sebulan setengah sudah habis 5 juta, lalu dapat berita duka dan harga tindakan yang cukup menguras kocek kita. Bukannya tidak ada uang segitu, cuma saya rasa ga worth it. Meskipun pihak RS menjamin bahwa tindakan kuretase ini hanya sebentar dan tidak sakit, langsung bisa pulang hari itu juga.

Sedangkan kami tidak punya asuransi kesehatan, hanya ada bpjs. Jadi BPJS is the last option. Bagaimana tahap menggunakan BPJS untuk prosedur kuretase? Sebenarnya sama seperti klo kita berobat ke RS dengan BPJS.

  1. Datang ke faskes 1 dari BPJS kamu. Ceritakan pada dokter di faskes pertama mengenai kasus kamu, nanti dokter kamu akan membuatkan surat rujukan dan rekomendasi untuk melakukan prosedur kuretase di rs tujuan. Klo kemarin dokternya menanyakan saya mau ke RS mana, tapi tetap saja keputusan nanti ada di bagian administrasi faskes 1. Bagian administrasi akan melihat RS mana saja yang mendukung tindakan kuretase dan sesuai dengan tipe RS paling rendah. Tipe RS paling rendah disini ialah tipe C.
  2. Jika sudah dapat surat rekomendasi tindakan, datang ke RS tujuan. Lebih baik bertanya dulu di bagian informasi RS tsb. Berdasarkan pengalaman saya, RS yang saya tuju kemarin tidak bisa langsung masuk dan melakukan tindakan. Harus mendaftar seperti rawat jalan pada umumnya. Jadi reservasi dulu, lalu besok membawa pakaian, pembalut, dan file-file yang dibutuhkan untuk administrasi.
File atau dokumen apa saja sih yang dibutuhkan? Sepertinya ini tergantung dari RS tujuan ya. Kemarin RS saya, syaratnya ialah :
  • 2 buah fotocopy kartu keluarga
  • 2 buah fotocopy ktp
  • 2 buah fotocopy kartu bpjs kesehatan
  • fotocopy surat rekomendasi atau rujukan
  • Surat rekomendasi atau rujukan asli
  • kartu bpjs kesehatan asli
Untuk jaga-jaga, saya bawa semua dokumen asli sampai bawa buku nikah, jumlah fotocopynya pun masing-masing 5. Kenapa bawa pembalut? Karena setelah dari RS, saya browsing pengalaman kuretase dengan BPJS seperti apa. Baju yang dibawa pun cukup untuk dua malam.

Keesokan harinya, saya melakukan daftar ulang dan memberikan dokumen syarat yang diminta. Lalu mengantri untuk konsul ke dokter kandungan terlebih dahulu. Setelah itu keluar dari ruang konsul, menunggu untuk masuk ruang tindakan. Perawat memanggil ke ruang tindakan, lalu kita disuruh tiduran di brankar. Perawat akan mengecek apakah kita sudah pembukaan atau belum. Cukup lama di observasinya, sampai akhirnya dokter memutuskan di opname saja. Kembali menunggu, sembari kamar disiapkan. 

Setelah masuk kamar, perawat mengecek kembali apakah saya sudah pembukaan atau belum. Btw saat perawat melakukan pengecekan ini rasanya sakit ☹️. Sampai pada akhirnya sore hari, dokter memutuskan untuk menyuruh suami saya membeli obat 3 buah, dan ternyata itu obat penggugur kandungan. Diminum sehabis makan malam dan jam 9 malam, satu lagi diminum keesokan harinya. Obat ini tidak dicover oleh BPJS, jadi beli sendiri di apotik RS. Saat opname pun tidak menggunakan infus. Obat ini juga tidak mahal, mungkin karena itu banyak yang mencari obat ini dan melakukan aborsi di rumah. Obat ini tidak dijual bebas ya.

Obat pertama diminum masih belum ada efek apapun. Perawat pun bertanya apa ada keluhan, saya jawab tidak. Karena sudah minum obat dan opname, saya pun sehabis mandi lalu memakai pembalut. Pembalut yang saya bawa ini ialah pembalut biasa untuk menstruasi tapi dengan ukuran yang sangat panjang. Obat kedua menjelang saya tidur. Ternyata efeknya baru terasa di jam 11 malam, perut rasanya sakit luar biasa. Ketika memegang celana pun ternyata sudah basah oleh darah. Kasur pun banjir darah. Saya ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan pembalut, tadinya pembalut yang saya pakai itu cuma 1, karena 1 tidak cukup akhirnya saya pakai 2. Memanggil perawat untuk mengganti seprei dan perlak brankar. Biasanya kalau saya mens, selalu mencuci pembalut yang sudah dipakai. Tapi yang ini saya tidak sanggup cuci karena terlalu banyak darah dan full dari ujung ke ujung. Jadi hanya menaruhnya di kantung plastik besar. Kamar mandi pun rasanya sudah bau darah banget, saat ganti baju pun saya ga bisa lepas dari toilet duduk. Karena darah masih terus keluar. Keluarnya itu seperti *maaf* pup tapi keluar begitu saja. Ada kali 15 menit di kamar mandi sampai si darah ini agak stop sehingga saya bisa memakai celana.

Setelah itu rasanya perut melilit luar biasa, mungkin rasanya seperti kontraksi orang lahiran. Sampai akhirnya bisa tertidur dengan sendirinya dan terbangun 15 menit kemudian. Ganti pembalut lagi, nongkrong di toilet lagi. Pembalut yang saya pakai hanya 1 pack dan isinya 20. Itu pun kurang sampai jam 2 pagi. Akhirnya saya menyuruh suami saya beli lagi pembalut di minimarket terdekat. Baru tersadar saat menghabiskan pack kedua dan membeli pack ketiga bahwa pembalut yang dipakai seharusnya itu pembalut maternity, karena katanya berbeda. Begitu terus siklusnya sampai akhirnya saya agak bisa tertidur lama di jam 8 pagi. Darah yang keluar juga tidak sebanyak semalam, tapi rasa sakitnya luar biasa. Semakin menjadi-jadi. Rasanya saat itu lebih baik saya mati daripada tersiksa seperti itu. 

Setelah makan pagi, saya minum obat terakhir. Siangnya saya dibawa ke ruang tindakan lagi oleh perawat. Diruangan itu agak lama, dan posisinya bagian bawah saya terbuka dan diberikan semacam pembalut perlak, untuk melihat apakah darahnya masih keluar dan pembukaannya sudah sampai mana. Cukup lama di ruang tsb, sampai akhirnya dokter mengijinkan saya untuk pulang. Karena pembukaan saya belum full dan darah juga sudah hampir keluar semua. FYI, saya hanya bertemu dokter hanya saat konsul saja. Dokter hanya berkomunikasi dengan perawat, lalu perawat menyampaikan kepada saya. Kalau tidak salah, perawat sempat menanyakan apakah janinnya sudah keluar? Saya jawab tidak tahu karena terlalu banyak darah, saya pusing, dan duduk di toilet kita proses pengeluaran darah itu berlangsung. Entah ini memang prosedur dari bpjs seperti ini, atau kah dari pihak RS nya yang pilah pilih karena bpjs, atau memang dokternya mencari jalan pintas. I didn't really know.

Minggu besoknya, saya lupa apakah jaraknya sampai dengan seminggu atau tidak, saya konsul kembali ke dokter untuk dicek apakah sudah bersih atau belum dan diberikan obat. 2 minggu kemudian balik lagi ke dokter untuk melihat apakah kali ini sudah bersih atau belum, dan diberikan obat untuk menunda menstruasi.

Biayanya free selama proses kuretase, opname, dan konsultasi check up after kuretase. Tapi hanya konsultasi pertama setelah tindakan yang gratis atau di cover, untuk konsultasi kedua bayar dengan biaya pribadi.

Oh ya kenapa saya memilih kuretase langsung karena dari semua dokter yang saya temui sebelum tindakan ini menyuruh saya melakukan tindakan segera, setidaknya maksimal seminggu untuk mengambil keputusan karena akan berbahaya buat si ibu. 

Yang saya herankan dari proses kuretase yang saya alami, bagaimana orang bisa menggugurkan berkali-kali dengan meminum obat penggugur kandungan dan meminumnya tanpa diawasi oleh tenaga medis? Because it was hurt so much. Dipikiran saya saat itu, jika memang rasanya kontraksi sakitnya seperti ini, it doesn't matter if I can hold my child. Tapi ini saya merasakan sakit tapi tidak ada yang bisa saya perjuangkan ☹️

That was my story. Apakah saya trauma? Yes, I am. Apakah saya tidak mau hamil lagi? Of course I will

Oh ya, setelah proses kuretase ini, saya masih mengeluarkan darah sampai kurang lebih sebulan. Baru menstruasi lagi di bulan kedua. Mungkin karena dari itu tidak boleh berhubungan badan terlebih dahulu jika kita habis melakukan kuret.

Pro kontra antara proses kuretase tindakan dan obat masing-masing ada ya, kalian bisa searching sendiri lewat om google :D

April 10, 2020

TTC : Thank you, nak !

April 10, 2020 0 Comments
by Dita Ramadhany on 6.7.19


Assallamualaikum, nak !
Pertama kali ibu tahu akan kehadiranmu, rasanya sungguh luar biasa.
Kaget, senang, campur haru.
Sama halnya dengan ayah.
Ayah sampai berhari-hari kaget akan kehadiran kamu.
Kami berdua sungguh senang, dan ingin melihat kamu bertumbuh kembang dengan baik di perut ibu.
Kamu memang bukan cucu pertama dari keluarga ayah, tapi kamu cucu kesayangan dan pertama dari keluarga ibu.
Rasanya ibu ingin memberitahu dunia, bahwa kamu hadir di perut ibu.

Namun kebahagiaan itu rasanya cuma bertahan seminggu ya nak.
Karena minggu-minggu berikutnya, kamu selalu membuat ibu sedih dan cemas.
Untaian doa slalu ibu berikan untukmu, agar Allah slalu memberikan kesempatan untuk ibu bertemu kamu di dunia ini.
Bertemu kamu dalam keadaan sempurna.
Supaya kamu tumbuh kembang dengan baik di perut ibu yang mulai buncit ini.
Setiap malam, ayah selalu mencium kamu walau terhalang perut ibu.

Tapi ternyata kamu masih ingin sama Allah ya nak.
Mungkin ibu dan ayah terlalu pamer dan lupa, bahwa kamu ini ya memang titipan Allah.
Kamu milik Allah.
Makasih ya nak, kamu buat ibu dan ayah merasakan menjadi orang tua untuk 3 bulan ini.
Seharusnya, kamu saat ini sudah 4 bulan di perut ibu.

Saat ini ibu memang masih sedih kalau ingat kamu.
Rasanya ingin menyalahkan diri sendiri terus menerus.
Tenang saja nak, ibu tau bahwa semua ini ketentuan Allah.
Ibu ikhlas.
Ayah ikhlas.

Makasih ya nak.
Smoga dalam waktu dekat, kamu sudah siap untuk benar-benar bertemu dengan ibu dan ayah.
Disaat itu, ibu akan benar-benar menjaga kamu hingga kamu dewasa nanti.
Nyawa ibu juga rela ibu pertaruhkan disaat waktu itu tiba.

See you soon nak.
Love you.

TTC : First Pregnancy

April 10, 2020 0 Comments

by Dita Ramadhany on 6.7.19

Pengen cerita hal yang sebenarnya memberatkan hati dan menyedihkan. Seperti yang padahalnya kalian tahu, bahwa saya sangat menantikan buah hati. Namun sampai dengan satu tahun lebih tidak ada kabar menggembirakan.

Pada tiga bulan pernikahan, hal ini sungguh mencemaskan. Tekanan dari lingkungan lumayan besar, jadilah kami pergi ke dokter untuk periksa. Kata dokter sih masih wajar karena masih pengantin baru, jika sudah setahun lebih baru harus diperiksa. Namun dua kali kami periksa tetap diberikan obat oleh dokter. Lalu, kami menjalani pernikahan seperti biasa. Lingkungan lagi lah yang membuat saya sedih. Ketika ada sepupu yang menikah di tahun yang sama dengan saya sudah hamil, lalu para orang tua menasehati agar tidak menunda. Apalah daya kami yang berusaha namun Qadarallah belum dikasih juga. Suami pun menguatkan saya setelah beberapa kali saya down mengenai hal ini.

Beberapa bulan kemudian, ipar menikah dan beberapa minggu setelah menikah dinyatakan positif. Hal itu pula membuat saya down lagi. Terlebih keluarga besan ipar, setiap kali kami main ke rumahnya selalu menanyakan apakah saya sudah isi. Mungkin saya yang terlalu sensitif, menjadi berpikiran buruk. Mencoba berpikiran positif kembali.

Di bulan ke sembilan pernikahan, saya mencoba browsing untuk program hamil yang tentunya tidak perlu konsultasi ke dokter, karena biaya nya pasti mahal. Lalu saya mencoba mengubah jadwal berhubungan, yang tadinya dilihat berdasarkan masa ovulasi dari kalender kesuburan, menjadi setiap dua hari setelah menstruasi. Saya juga menjaga agar jeda menstruasi per bulan tidak terlalu jauh, karena jika dilihat dari aplikasi pencatat menstruasi jeda yang paling lama itu bisa mencapai 46 hari. Mengurangi makan pedas, memperbanyak sayur dan buah, mengurangi junk food dan kafein, dan melakukan olahraga rutin. Itu semua hal yang sulit, karena saya suka pedas dan kafein, saya ga bisa makan sayur yang ga ada rasa dan cukup picky terhadap sayur, sedangkan buah jarang beli dan harganya juga tidak murah jika mau beli rutin. Untuk olahraga rutin pun sedikit susah, saya awalnya bisa meluangkan waktu 5-10 menit, setelah itu blaass ga bisa. Ya karena mengurus rumah, suami, dan kerja pagi sampai maghrib. Malam pun mau olahraga rasanya sudah lelah.

Lalu mencoba rutin minum madu dan kurma. Segala macam kurma saya makan padahal saya tidak suka karena terlalu manis, dari kurma biasa, kurma muda, sampai kurma ajwa. Teman-teman kantor lalu mengadakan senam dua kali seminggu seusai jam kantor, saya pun mengikutinya. Mertua saya juga menyarankan untuk pijit pun saya iyakan. Jadi orang-orang yang suka menasehati tanpa saya bertanya itu mungkin tidak tau hal apa saja yang sudah saya lakukan.

Oh ya, saya pun sebenarnya dalam satu tahun pernikahan itu suka telat haid dan merasakan yang katanya tanda-tanda hamil, lalu melakukan testpack ternyata negatif sehari kemudian mens. Berkali-kali hal tersebut begitu, sampai saya trauma untuk melakukan testpack. Lalu pada akhir April kemarin, saya iseng mencoba testpack sambil saya bebenah rumah sebelum kerja. Saya tinggal sebentar, dalam hati saya berpikiran pasti negatif lagi. Qadarallah hasilnya berbeda dengan pikiran saya, ada dua garis dengan satu garis samar. Saya tidak yakin karena dulu pernah seperti itu lalu keesokan harinya mens.


Karena panik dan kaget, saya pun bertanya pada ibu saya via chat. Sudah tidak kepikiran untuk membuat suprise. Lalu ibu saya cuma menyuruh untuk coba tes ulang lagi. Saya pun tak sabar untuk menanyakan kepada suami, apakah ini garis dua atau bukan. Saya langsung menanyakan kepada suami yang baru selesai mandi, dan dia pun shock dan bingung. Katanya iya itu garis dua, artinya apa? hamil? Saya bilang yah mungkin. Lalu saya tinggal bebenah lagi agar cepat pergi ke kantor. Ketika usai bebenah, suami saya masih dalam keadaan shock, bingung, mukanya bengong.

Karena tidak sabar untuk testpack lagi, akhirnya saya beli lagi testpack di apotik yang bisa dipakai di malam hari dan tidak harus dengan pipis pertama. Hasilnya pun positif. Lalu kami berinisiatif untuk konsultasi esok hari. Masih tidak percaya dengan hasilnya, saya pun test ulang dengan dua buah testpack. Kedua hasilnya juga positif. Hari itu kami berkeliling ke berbagai rumah sakit untuk konsultasi, namun karena tanggal merah jadi tidak ada dokter spesialis yang praktek. Jadi keesokan harinya saya izin datang telat ke kantor untuk ke dokter. Dokter pun mengatakan saya positif hamil namun saat itu kantung kehamilannya belum terlihat. Rasanya sungguh tak dinyana, karena bulan itu saya niat untuk free promil, ingin bebas makan apapun tapi ternyata positif. Alhamdulillah.



Gejala hamil yang saya rasakan saat itu pusing, tensi rendah, dan mual hanya pada malam hari. Tidak ada flek-flek pink seperti yang dikatakan diberbagai artikel. Saya pun mulai menjaga makanan dan minuman serta aktifitas. Lalu seminggu kemudian, saya beberapa kali pup berdarah, rasanya panik luar biasa, karena takut keguguran, perut saya pun kram, dan rasanya seperti mau mens, ada yang mau keluar. Lalu saya ke dokter dinyatakan untuk bed rest selama 3 hari.

Seminggu kemudian, saya masuk kantor seperti biasa dan tidak berani melakukan aktifitas berat, sampai beberapa hari kemudian saat pipis di kantor, ada darah di tissue saat cebok. Berkali-kali diusap ada darah, karena takut kenapa-napa, saya izin ke dokter dan dokter menyuruh bed rest lagi selama seminggu. Pikiran saya sudah takut semenjak flek ini, takut hamil kosong, takut hamil anggur, dll. Mencoba berpikiran positif lagi. Lalu, mencoba aktifitas seperti biasa lagi dengan ekstra super hati-hati. Masih sedikit flek-flek, jadi saya memakai pembalut setiap harinya. Fleknya pun kadang berhenti beberapa hari kadang keluar lagi.

Yang paling membuat sedih ialah saya tidak bisa bepergian terlalu jauh, paling jauh pun itu cuma ke kantor. Saat lebaran pun keluarga pada mudik, saya dirumah hanya berdua dengan suami. Lalu hari Minggu, saat pipis keluar gumpalan darah. Rasanya shock, bingung, dan takut. Mau periksa pun tidak ada dokter yang buka karena masih cuti lebaran dan weekend. Seninnya pun kami mencoba ke dokter terdekat, dan dari raut wajah dokter mengatakan bahwa janinnya tidak berkembang. Rasanya shock, terlebih saat melihat raut muka suami yang berubah. Dokter pun mengatakan bahwa kami harus balik lagi seminggu kemudian. Saya masih mencoba berpikiran positif, mau mencari second opinion. Di hari yang sama pula, kabar duka menghampiri keluarga besar kami. Salah satu om saya meninggal, jadi ketika saya butuh sandaran orang tua saya, mereka tidak ada di dekat saya. Akhirnya kami datang ke dokter yang dari awal menangani kehamilan saya, dan dia juga menyatakan bahwa janin kami tidak berkembang dan harus dikuret segera, entah dengan cara kuretase berupa tindakan atau melalui minum obat. Disitu rasanya hati saya hancur sehancur hancurnya. Tapi saya mencoba biasa agar suami saya juga tidak terlalu sedih. Lalu kami menanyakan berapa biaya tindakan kuretase yang ternyata lumayan mahal. Rata-rata diatas 1juta hanya untuk tindakannya saja, belum yang lainnya.

Pulang dari RS, kami pun berdiskusi bagaimana tindakan selanjutnya. Lalu kami mencoba dengan BPJS dan ternyata bisa. Kami pun membuat jadwal dengan dokter di RS yang dirujuk. Sesampainya dirumah, susah untuk menutupi perasaan ini. Mencoba menonton komedi, tapi seusai itu air mata langsung turun, shalat pun rasanya sedih luar biasa, tidak bisa di sentuh suami karena jika saya dielus yang ada saya akan histeris, saya tahu itu.

Keesokan harinya bertemu dengan dokter, lalu dokter kembali menjelaskan bahwa kehamilan saya ini Blighted Ovum (BO) atau kehamilan kosong. Lalu kami menjalani kuretase, entah karena prosedur BPJS atau bagaimana, yang seharusnya saya menjalani kuretase melalui tindakan dialihkan menjadi obat. Katanya karena saya belum ada pembukaan. Akhirnya saya pun di opname. Sampai malam pun belum ada pembukaan. Awalnya saya hanya merasakan mulas-mulas biasa seperti pada flek-flek sebelumnya, namun saat tengah malam terbangun dengan banjir darah. Saya tahu bahwa ketika menjalani kuretase harus menggunakan pembalut, tapi pembalut pun tidak bisa menahannya.

Saya pun hanya bisa tidur 15 menit setiap sehabis mengganti pembalut sejam sekali. Rasanya Masya Allah sekali, kram tiada henti dan berkali-kali lipat dari kram saat mens. Pembalut yang saya bawa pun sampai habis sampai harus membeli dua kali bolak-balik, celana pun slalu terkena noda darah, dan tidak nafsu makan. Siang pun dibolehkan pulang ke rumah dengan keadaan pendarahan yang lumayan berkurang volumenya. Sampai dua minggu kemudian, dokter menyatakan rahim saya sudah bersih.

Disini saya benar-benar merasakan betapa beratnya perjuangan menjadi seorang ibu. Hormon kehamilan saya baru benar-benar hilang 3 minggu setelah kuret. Sampai saat ini mungkin saya dari luar terlihat baik-baik saja, tapi setelah proses itu sampai sekarang saya masih insomnia.

Mungkin ada yang mempunyai pengalaman yang sama, tapi apa yang dirasakan setiap orang berbeda. Janganlah kalian memojokkan dan mengatakan hal yang sensitif kepada mereka. Jangan bertanya apa penyebab mereka mengalami itu kecuali mereka sendiri yang menceritakan.

APS

April 10, 2020 0 Comments



Heyho, welcome to my new blog. I want to discuss or give an info about health.

Pertama saya mau jelasin secara tentang darah dulu, karena nantinya akan berhubungan dengan penyakit yang akan saya bahas. Menurut kalian darah itu seberapa penting sih bagi kita? Mungkin malah salah satu komponen tubuh ini tidak terlalu diperhatikan kecuali kalau kita lagi sakit. Yah ga beda jauh lah sifatnya sama air, klo lagi haus banget baru nyari-nyari, atau klo lagi musim kemarau baru ngerasa penting betapa artinya air itu.

Makanya terkadang kita ga peduli tentang darah, gimana sirkulasinya atau darah kita aneh atau engga. Dan penyakit yang paling mahal itu yang agak susah itu ya penyakit darah.

Apa saja sih penyakit darah yang kalian tahu? Hipertensi, hipotensi, leukimia, hemofilia, anemia. Kurang lebih itu kan? Tapi ternyata ada banyak jenis penyakit darah. Sebelumnya saya tidak tahu adanya dokter darah atau dalam bahasa kedokteran dokter hematologi. Biasanya dokter hematologi ini bergabung dengan ilmu onkologi. Onkologi adalah sub-bidang medis yang mempelajari dan merawat kanker. Makanya tidak jarang di berbagai rumah sakit tidak ada tulisan dokter spesialis hematologi, melainkan onkologi. Meskipun dokter yang memiliki gelar KHOM mempelajari ilmu tentang darah juga, tetapi jarang yang benar-benar mendalami tentang darah, biasanya lebih ke kanker.

Salah satu penyakit darah yang mungkin sekarang sedikit banyak jadi sorotan, yaitu penyakit APS. Bisa juga disebut ACA ataupun Sindrome Hughes.

Apa sih penyakit APS itu? Penyakit APS ialah suatu penyakit dengan kelainan suatu komponen darah yang menyebabkan darah cepat mengental. Sebenarnya istilah kedokterannya mungkin bukan APS ya, entah apa namanya. Salah satu cara mendeteksi apakah kita terkena penyakit APS adalah dengan tes darah ACA. ACA merupakan singkatan dari Anticardiolipin Antibody, yang merupakan suatu protein dalam darah yang membuat tubuh membentuk reaksi kekebalan hingga terjadi APS (Antiphospholid Syndrome). Keliatannya penyakit ini berlawanan dengan hemofilia ya? Dimana kalau hemofilia itu, darahnya sukar membeku sehingga jika kita terluka akan mengalami pendarahan terus menerus. Sedangkan untuk APS ini ada protein darah yang menyebabkan darah menjadi lebih cepat beku atau kental daripada darah orang normal pada umumnya.

Kenapa bisa? Oke, saya akan ngutip penjelasannya dari blog orang yah soalnya saya sendiri bukan orang kesehatan, jadi ga gitu ngerti. Berikut penjelasannya.

Apa yang menyebabkan pembekuan darah secara tidak wajar itu bisa terjadi? Dugaan sementara menyebutkan bahwa antifosfolipid antibodi menurunkan kadar annexin V-salah satu jenis protein yang berikatan dengan fosfolipid dan memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Menurunnya kadar annexin V tersebut menyebabkan terjadinya bekuan darah atau trombosis.

Penyebab dari sindrom APS belum dapat diketahui dengan pasti. Seperti penyakit lain, keturunan atau genetik adalah salah satu faktor yang disebut-sebut sebagai penyebab sindrom ini. Selain itu, ada banyak dugaan diantaranya alergi obat-obatan, kanker, dan infeksi virus atau bakteri.

Ya jadinya hampir mirip sama kanker kali ya. Dimana gen bisa menjadi salah satu pengaruh besar untuk kita mengidap penyakit ini. Faktor makanan juga bisa kali ya. Makanan Fast Food, Junk Food, dan makanan dengan menggunakan vetsin atau bahan penyedap rasa bisa menjadi salah satu pemicu. Terlebih jika kita jarang mengkonsumsi sayur dan buah, juga melakukan olahraga.

Bagaimana gejala-gejala untuk mengetahui apakah kita mengidap penyakit ini atau tidak ? Duh sebenernya gejalanya ada banyak, dan ga semua pasien mempunyai gejala yang sama. Tapi kurang lebih ada beberapa yang sama, sehingga kita bisa ambil secara garis besarnya. Disini saya akan menjelaskan, tapi jangan langsung menduga-duga ya. Seperti yang saya bilang tadi ga semua pasien mempunyai gejala yang sama, dan kalau hampir semua gejala itu kita pernah merasakannya jangan langsung drop, tapi harus langsung konsultasi ke dokter untuk menanyakan kebenarannya

Gejala-gejala penyakit APS sebagai berikut.
- Sering merasakan sakit kepala, pusing, migrain secara tiba-tiba
- Kram atau kesemutan di kaki atau tangan
- Tekanan darah sering naik atau turun tiba-tiba
- Pegal-pegal di daerah bahu, leher, punggung, atau persendian
- Pandangan berkunang-kunang
- Daya ingat menurun atau sering susah fokus
- Sesak nafas
- Telinga sering mendengung atau tuli mendadak

Bagi perempuan yang sudah menikah, ada gejala tambahannya.
- Pernah beberapa kali mengalami keguguran
- Infertilitas primer
- Janin meninggal dalam kandungan
- Preeklamsia

Apa sih akibatnya jika kita mengidap penyakit ini? Ya seperti yang saya sebutkan diatas, ada gejala yang menjadi salah satu akibatnya, yaitu susah hamil dan akan mengalami keguguran. Akibat yang lain ya seperti penurunan daya ingat, sering cepat merasa lelah, dan jika sudah parah bisa mengalami stroke, kelainan jantung, bahkan sampai meninggal di usia dini (muda). Tapi ada akibat lainnya juga yang mungkin ga dialami semua pasien APS ini, seperti kebutaan sementara. Tidak percaya? Tapi saya benar-benar pernah menemukannya. Menyedihkan yah :(

Selain itu, tanda-tanda penyakit APS ini terkadang menyerupai penyakit lupus, karena beberapa tes darahnya juga ada yang hampir sama. Bahkan ada pasien APS yang lama tidak kontrol lalu berkembang menjadi penyakit lupus. Menurut salah satu dokter hematologi onkologi, tidak semua orang penyakit lupus itu mempunyai APS, tapi bisa jadi penyakit APS berkembang menjadi lupus.

Bagaimana cara mendeteksinya? Ya pertama kalau 90% dari gejala yang saya sebutkan tadi kamu mengalaminya, kamu harus menemui dokter hematologi. Dimana bisa mencari dokter hematologi ? Memang jarang sih dokter dengan spesialisasi ini, tapi ada beberapa rumah sakit yang bisa kamu datangi untuk konsultasi. Yang saya tahu ada RS PGI Cikini dan RSCM. Biasanya habis konsultasi dengan dokter, kita disuruh melakukan beberapa kali test darah, dan kalian harus tahu sekali test darah itu mahal bangeeet :( Makanya sebisa mungkin tetap sehat jangan sampai sakit.

Lalu, bagaimana sikap kita jika kita benar-benar mengidap penyakit ini? Pertama biasanya sih dokter menyarankan untuk kontrol rutin, bisa seminggu sekali atau sebulan dua kali. Kalau sudah lebih baik, jarak kontrolnya juga semakin jauh. Kedua, rutin minum obat yang dikasih. Memang banyak, bukan hanya banyak jumlahnya, banyak jenisnya dan sering diminum juga untuk aturan pemakaian obatnya. Sedangkan untuk ibu hamil ada perlakuan khusus, selain sering kontrol dan minum obat, dokter juga biasanya memberikan suntikan, dan mengajari kita menyuntik sendiri. Kenapa ? Karena kan ga mungkin setiap hari dokternya harus datang kerumah kita untuk suntik. Suntikan ini gunanya untuk mengencerkan darah, agar pasokan makanan ke janin tidak terganggu dan janin bisa tetap bernapas.

Untuk perempuan, kalau kita sudah tahu mengidap APS dan mau hamil, sebaiknya kita konsul ke dokter hematologi dulu jadi sudah sedia payung sebelum hujan.

Apa ada pantangan makanan untuk penderita APS ? Sebenarnya sih ga ada, cuma setau saya jangan terlalu banyak makan toge dan brokoli hijau. Mungkin anak Pangan ada yang bisa menjelaskan kenapa kedua makanan tsb berpengaruh terhadap kekentalan darah?

Jika kamu masih muda dan penderita APS, jangan takut dan putus asa, terlebih jika kamu seorang perempuan. Karena penyakit ini bisa sembuh kok, asal kita rutin kontrol dan minum obat. Kenapa saya menulis post tentang ini? Karena menurut beberapa artikel yang saya baca, penderita APS sekarang tidak hanya ibu hamil dan para lansia, melainkan juga para remaja. Jadi setidaknya kita harus aware dengan kesehatan kita, apalagi darah merupakan komponen penting dalam tubuh kita. Tapi memang sehat itu lebih baik daripada sakit.

Mens sana in corpore sano

* nb source from :
- http://9monthsmagazine.blogspot.co.id/2009/10/mengenal-penyakit-aca-pada-ibu-hamil.html
https://myalter.wordpress.com/hasil-ketikan/aca-jangan-putus-asa/

Follow Us @soratemplates